🌥️ Cerpen Tentang Guru Yang Sabar

Berbicaramengenai sabar, para ahli dari berbagai disiplin ilmu ternyata memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai definisi dari sabar itu sendiri. Salah seorang di antara mereka mengatakan, bahwa sabar itu apabila seseorang ditimpa musibah, namun tetap tersenyum karena merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT melalui keputusan 42.1.4 TOKOH DAN PENOKOHAN. Tokoh utama dalam cerpen, “Perpisahan”, karya Ikin Syamsudin Adeani ini adalah tokoh “aku” dan “Jeng Sri” di samping itu ada beberapa tokoh yang ikut berperan dalam cerpen ini di antaranya adalah Keluarga “aku” dan Keluarga “Jeng Sri”. Tokoh utama “aku” adalah sesosok Pria yang antagonis. Hinggasekarang aku masih diselimuti kebimbangan tentang perasaanku yang enggan melepaskan sesoran yang ku sayangi. Perasaankumash penuh harap denganya.Aku masih menantikanya hingga sekarang. ketika ia telah memiliki seorang kekasih. aku berusaha bersabar hingga ia tak bersama kekasihnya dan ia mencari kekasih lain. ia idak cerpententang smash Jumat, 14 Oktober 2011. “udahlah sabar aja.gua yakin ilham pasti sembuh.” Hari ini memang gak ada proses belajar mengajar, karna guru-guru mengadakan halal bihalal di ruangan nya. Ilham dan chalisa memilih ngobrol di kantin dari pada di kelas diam gak jelas. Dengansantai dan sabar, ustadz ilham mendengarkan ceritaku. Oh, kalau memang itu yang kamu gelisahkan maka doakanlah keluargamu agar diberikan hidayah dan memilih agama islam sebagai agama mereka. Orang tuaku tak segan-segan bertanya kepada guru mengajiku mengenai bagaimana mendidik anak dalam pandangan islam. Selain itu mereka Engkauselalu sabar dalam menghadapi ku Engkau selalu tabah memberikan ilmu. Oh guru ku, Engkau selalu sayang kepada ku Meski aku membuatmu marah. Oh guru ku, Engkau memilihku atau membimbingku di jalan yang lurus Engkau membuat ku sukses hingga saat ini. Baca Juga: 10 Jenis Permainan Bola Kecil yang Dipertandingkan Secara Resmi. 7. Sabanhari, kita bercengkrama. Berdendang dengan nuansa berbeda. Nuansa yang kita anggap memiliki kenikmatan tersendiri. Mencibir setiap kata-kata sinis-meruncing tentang persaan kita, bercengkerama hangat tentang lingkungan, tentang negara, tentang ideologi, tentang Tuhan, tentang apa saja yang aku dan kamu rasa itu perlu diperdebatkan, sungguh KesabaranSeorang Ulama. Al Mubaarok bin Al Mubaarok Adh Dhoriir seorang ulama ahli nahwu yang digelari Al Wajiih. Beliau dikenal seorang yang elok akhlak dan perilakunya, lapang dada, penyabar dan tidak pemarah. Sehingga ada sebagian orang-orang jahil yang berniat mengujinya dengan memancing kemarahannya. ceritapendek romantiscerita pendek jatuh cinta dengan guru baru yang tampan . Hai Sobat Guru Penyemangat, apakah kamu adalah kakak yang sayang terhadapa adikmu, atau kamu adalah adik yang disayang oleh kakakmu?Ehem. Kisah kakak-adik memang penuh dengan suka duka, ya. Yang namanya saudara kandung tentu memiliki rasa saling peduli yang saja, tidak semua orang bisa menginterpretasikan kepedulian itu dengan cara yang sama. Seperti hasil penjumlahan dari angka dua. Tidak hanya 1+1, namun 9-7, 3-1, dan 0+2 hasilnya sama dengan berarti bahwa banyak jalan untuk menghadirkan di sini bakal menyajikan cerpen inspiratif tentang kakak yang sayang terhadap disimak yaCerpen Ayum di Kala HujanOleh Fahmi Nurdian SyahAyum adalah bocah yang gemar sekali memakai kaus oblong, berencana bermain bola bersama kawan sekampungnya setelah menghabiskan makan lodeh sisa kemarin terasa asin setelah beberapa kali dihangatkan, telah dilahap habis dalam sekejab karena lapar, Ayum hanya tidak sabar untuk bergabung bersama teman-teman yang menunggunya di lapangan dekat baru saja ia meletakkan piring kotor ke sumur, rintik gerimis mulai berjatuhan di atas kepala ia berlari mengentas pakaian kering yang dijemur di samping rumah dan membawanya masuk. Ibunya sedang tidak di rumah saat ini, bantu-bantu di acara pernikahan Mbak Dewi, anak kepala desa yang rumahnya berjarak cukup jauh dengan rumah ia dipasrahi ibunya untuk mengurus beberapa pekerjaan rumah menggantikan semakin lebat, tapi tak memadamkan niatnya untuk bermain bola, mau hujan-hujanan sekali pun. Toh, ia berencana pulang sebelum ibunya sampai di rumah Magrib. Ibunya tidak akan tahu, bisa marah kalau sampai ketahuan.“Mas, mau ke mana?” Suara lirih itu muncul ketika Ayum sampai di ambang pintu depan. Maya, adik perempuan Ayum baru saja bangun dari tidur siangnya. “Ke lapangan, kamu kok udah bangun, May. Kan baru sebentar kamu tidurnya,” tukas Ayum. “Jangan pergi, Mas, nanti aku sendirian.” Maya mulai merengek. “Sebentar aja, kok. Maya kan udah kelas satu, pasti berani jaga rumah sendirian.”Wajah Maya semakin tertekuk dan memerah, tiba-tiba tangisnya pecah. Dengan memelas gadis itu menghampiri abangnya.“Kok nangis sih, May? Biasanya kan kamu main di rumah sendirian!”Ayum mulai menaikkan suaranya kesal, hujan telah melebat, meski samar ia bisa mendengar sorak sorai dari telah bersenang-senang tanpanya, sementara Maya bersikukuh menahannya di rumah. Tangisan Maya semakin kencang, tangan mungilnya meraih ujung kaus Ayum sambil menarik-nariknya kecil. “Jangan tinggalin!”Semua suara seolah meledak-ledak dalam telinga Ayum membuat kepalanya serasa berputar, dalam hatinya ia dongkol karena rencananya hancur berkeping-keping dalam laki-laki tersebut mendorong adiknya hingga terjerembab ke lantai, Maya semakin histeris.“Diam dong, May! Jangan nangis lagi!” seru Ayum setengah panik, agaknya ia langsung merasa menyesal sampai hati memperlakukan adiknya seperti hampiri Maya yang masih terduduk di lantai dan membantunya berdiri. Kemudian ia baru menyadari sesuatu yang salah.“May, kamu ….” Ayum menyentuh kening Maya yang telah basah oleh keringat. Suhunya panas. “Kamu sakit, May?” Ayum jawaban berarti yang keluar dari mulut Maya selain rintihan dan kilas ingatan tadi pagi terputar di otaknya, ketika ibunya berpesan untuk mengurus rumah saat kepergiannya juga menjaga adik hanya mengiyakan saja saat itu, bahkan tak menyadari Maya yang sejak pagi tidak keluar dari saja ibunya telah memberitahunya bila Maya sedang demam, namun Ayum tak mendengarkan lantaran sibuk dengan tayangan kartun favoritnya di ibunya telah memberi amanah padanya, bagaimana bisa ia sampai lalai dan membuat adiknya kesakitan seperti ini?“May, kamu tunggu sebentar, ya?” Ayum bergegas meluncur ke bufet di tengah ruangan, membuka laci di sayap kiri tempat ibunya biasa menaruh obat dan salep di ia hanya menemukan wadah tablet kosong obat pereda demam anak yang biasa ibu berikan pada Maya saat cara mendapatkan obat itu adalah membelinya di toko kelontong milik Pak Samin di RT sebelah. Cukup jauh kembali kepada Maya yang masih berdiri gamang, berusaha meredakan isakannya. “May, obatmu habis, Mas harus beli ke toko. Kamu Mas tinggal sebentar, ya?”“Enggak mau … jangan tinggalin aku, Mas. Maya takut sendirian.”Ayum bisa paham, di hujan selebat itu rawan pemadaman listrik secara tiba-tiba di daerahnya. Mana tega ia membiarkan Maya sendirian di rumahnya yang Ayum memutar otak, kaki lincahnya berlari ke teras yang telah dibanjiri kubangan air hujan. Kepalanya melongok ke kanan dan ke kiri tak sabar.“Mbah! Mbah Woh!” seru Ayum berusaha memanggil sosok tua yang sedang menyapu air hujan dari lantai teras di sebelah rumah, dipanggil tak menyahut, tidak dengar. Suara Ayum kalah dengan suara gemas Ayum berlari menembus tirai hujan menghampiri Mbah Woh. Alangkah terkejutnya beliau melihat bocah gundul itu sekonyong-konyong muncul di sisi terasnya.“Duh Ayum, kaget aku! Kirain tuyul!”Biasanya Ayum akan mencak-mencak tak terima setelah dikatain “tuyul” oleh Mbah Woh seperti kali ini ia sama sekali tidak sempat, kekhawatirannya terhadap Maya jauh lebih menguasainya.“Boleh minta tolong jagain Maya? Aku mau beli obat buat dia,” jelas Ayum langsung.“Loh, Nduk Maya lagi sakit?”“Iya Mbah, aku enggak lama, Kok!” Ayum Woh seketika meletakkan sapu ijuk yang dipakainya. “Iya kamu pergi sana biar Maya mbah yang jagain, hati-hati lagi hujan jalanan licin. Pakai paying, kan?”“Aku naik sepeda, Mbah. Lebih cepat.”Mbah Woh mengangguk. Maya telah aman bersama Mbah Woh di rumah. Dengan tergesa, Ayum menuntun sepeda usangnya keluar dari kayuh pedal sepedanya sekuat yang ia bisa, jalanan utama di kampungnya masih berupa tanah setapak yang langsung berubah jadi kubangan lumpur ketika musim medan yang dilauinya membuat Ayum lebih berhati-hati, ia tak ingin jatuh dan membuat badannya bau melewati padang lapangan yang dipenuhi kawan sepermainannya. Bocah itu hanya menatap mereka getir sembari terus mengayuh sepedanya.“Woy! Ipin mau kemana?” tegur Ali, salah seorang temannya yang kerap mengusilinya dengan memanggilnya “Ipin”.“Aku enggak main dulu!” balas Ayum sambil memelesat melintasi hujan yang sedari tadi mengguyurnya tanpa ampun kini mulai membuat tubuh kurus bocah kelas enam sekolah dasar tersebut menggigil dari ujung kepala plontosnya hingga ke ujung jari melewati jalanan utama ia akan lebih lambat sampai ke tujuan, Ayum pun membanting setang sepedanya belok melewati gang kecil di antara kebun terong dan di sana hamper banjir oleh air yang telah naik melewati parit. Bagai mengayuh dalam air, kakinya terasa amat bukan Ayum namanya kalau ia menyerah begitu depan terdapat pohon tua gundul yang cabangnya menjorok ke atas seperti jari-jari menyeramkan milik penyihir di televisi, di situlah ia harus berbelok, melewati jalan menurun yang membayangkan dirinya berada di atas tubuh seekor naga berbentuk ular yang melaju kencang menembus dan mulus, itu yang ia harapkan hingga dilihatnya persimpangan yang menunjukkan jalan yang lebih lapang di depan. Ia nyaris Samin sedang menyeruput kopi hangatnya di emperan toko yang teduh ketika Ayum baru sampai di tokonya. “MasyaAllah! Kamu sampai hujan-hujanan gini ke toko mau beli apa, Nak?” tanya Pak Samin cenderung heran. “Obat Pak, cepat! Maya lagi sakit di rumah!”Hujan sedikit mereda ketika Ayum berada di perjalanan pulang, kantung plastik yang ia gantung di setangnya telah ia parkirkan sepedanya sembarangan di halaman yang berlumpur, Ayum bergegas masuk. Hanya saja ia tak menyangka, sang ibu telah berada di kamar Maya bersama adiknya yang telah terlelap. “Ibu … Maya udah tidur?” tanya Ayum.“Baru saja, dia manggilin kamu terus, loh. Kamu dari toko kata Mbah Woh?” jawab ibunya kalem. Wajahnya datar tak menampakkan ekspresi yang sadar bahwa ia langsung masuk ke rumah tanpa mengeringkat kakinya atau badannya terlebih langsung terkatup, melirik ibunya ragu. Takut ibunya akan marah selepas ini, beliau paling tak suka ada lumpur di lantai rumah.“Eh Kak Ayum udah pulang, obatnya udah dapat?” sambut Mbah Woh yang muncul dari arah dapur, membawa senampan teko berisi minuman hangat—kentara dari uap yang menyembul keluar—dan beberapa mengangguk pelan tanpa berminat menjawab.“Ibu lupa kasih tau kalau obatnya Maya ibu taruh di atas kulkas.” Kali ini ibunya kembali bicara, wajah ayunya yang semakin dipenuhi keriput tersenyum tipis.“Kamu langsung beli obat baru rupanya, rumah udah dirapikan, jemuran juga sudah diangkat. Ibu senang kamu kakak yang bisa diandalkan.”“Bapak di surga pasti juga bangga sama Ayum.” Ibunya melanjutkan, Ayum semakin bungkam menahan tangis haru.~ Selesai ~ Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Assalamu'alaikum Wr. WbMembahas mengenai kesabaran seorang guru. Kesabaran merupakan suatu sikap yang ada pada diri seseorang yang mampu menahan dirinya agar tidak mudah melakukan tindakan yang salah. Kesabaran juga dapat diartikan sebagai ketelatenan seseorang dalam melakukan sesuatu. Bukan hanya itu kesabaran merupakan suatu sikap yang mampu menghadapi sesuatu yang sebenarnya sangat menjengkelkan hati seseorang. Sikap sabar ini perlu dimiliki oleh seorang guru. Mengapa demikian? Karena sebagai seorang guru kita harus sabar dalam menghadapi segala sesuatu yang terjadi di kehidupan sih kesabaran dari seorang guru itu? Ada beberapa aspek yang dapat dikategorikan sebagai kesabaran dari seorang guru. Yaitu seorang guru yg sabar menghadapi perkembangan dan pertumbuhan seorang siswa karena disini dari masing-masing siswa tingkat perkembangan dan pertumbuhannya itu tidak sama. Ada yang cepat dalam menangkap pelajaran dan ada juga yang lambat. Disini sikap sabar harus dimiliki oleh setiap guru. Bagaimana guru itu mampu mengatasi perbedaan daya tangkap guru harus sabar dalam mengajari siswa nya. Artinya guru ini harus sabar dalam memberikan pengetahuan pada siswa, karena terkadang ada siswa yang nakal atau tidak mau dikasih tau. Contohnya anak TK yang masih bersifat kekanak-kanakan. Nah ini bagaimana seorang guru itu harus sabar dalam memberikan pembelajaran pada siswanya. Maka dari itu kebanyakan guru TK bersifat sabar semua. Karena emang guru TK ini diuji kesabaran dalam membimbing anak didiknya yang masih masa peralihan atau masa masa awal masuk guru harus sabar dalam menghadapi karakteristik dari setiap anak didiknya. Dari anak didik yang satu dg yang lain itu berbeda-beda. Jadi, seorang guru harus mampu mengetahui karakteristik dari masing masing anak didiknya. Contohnya anak didik yang bersifat nakal, nah disini guru harus bisa mengendalikan emosinya agar tidak larut pada kemarahan yang mengakibatkan anak didiknya ketakutan. Bila anak didiknya itu nakal, maka hal yang harus dilakukan oleh seorang guru bukan memarahinya melainkan membimbingnya, menasihati dg sabarsupaya mau berubah ke jalan yang lebih baik lagi. Terkadang ada beberapa guru yang terbawa emosi dengan kenakalan anak didinya, sehingga ia lebih memilih untuk memarahinya daripada menasehati nya. Jika dilihat dari perkembangan sekarang siswa kebanyakan tidak suka dinasehati. Maka dari itu banyak guru-guru yang lebih memilih untuk mengerasi atau menghukum siswanya. Sebenernya hal itu bagus bagus saja. Cuman berilah hukuman yang setara, yang sesuai dengan perilakunya, yang tidak menyakiti siswanya. Akan tetapi alangkah baiknya jika guru itu mau mengajak bicara dulu siswa yang bermasalah tadi, kemudian menasehatinya pelan-pelan. Jika dengan hal itu masih belum bisa merubah sikapnya, barulah guru itu boleh memberikan. Hukuman sebagai bentuk ketika kita menjadi seorang guru sebaiknya tanamkan sikap sabar pada diri kita, karena seorang guruiti harus mempunyai sikap sabar. Sabar menghadapi tingkah laku anak didiknya, sabar dalam mengajari materinya, sabar dalam menghadapi ketidakpahaman siswanya, serta sabar dalam menghadapi apapun yang terjadi dalam diri anak didiknya.. Lihat Humaniora Selengkapnya Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Muridku, MalaikatkuOleh A. Deni Saputra Lampu malam masih temaram, jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam. Suara jemari tangan masih terdengar memukul-mukul keyboard komputer. Di samping kiri komputer tampak buku-buku pelajaran menumpuk. Di samping kanan, terdapat botol minum yang terlihat hampir setengahnya lagi, ditemani secangkir capucino. Sambil komat-kamit seorang laki-laki menatap tulisan yang ada di layar komputer. Buku sesekali dipegang dan ditaruh kembali. "Sudah slide terakhir," minum pun sudah kosong. Capucino hanya meninggalkan aromanya di cangkir. Namun, mata lelaki itu masih semangat memandang layar komputer. Dia seorang guru di salah satu sekolah swasta terkemuka di perbatasan Jakarta-Bekasi. Usia masih muda, berkaca mata, dan penunggu malam. Namanya adalah Bara. Ia masih memiliki semangat yang mem-Bara."Akhirnya selesai juga," sambil menekankan jari telunjuk ke tombol membawamu ke alamnya Berimajinasi semaunyaBara mengakhiri pekerjaannya dengan menulis sebait puisi yang selalu dilakukannya setiap malam. Dan waktu pun sudah menunjukkan pukul 1 malam. Bara sudah mematikan komputernya untuk pergi ke alam imajinasinya. Mengistirahatkan fisik dan hatinya. Malam terus melaju dan meninggalkan kegelapan. 1 2 3 4 5 6 7 Lihat Cerpen Selengkapnya

cerpen tentang guru yang sabar